Ciri Khas RPG Jepang alias J-RPG

Final Fantasy sebagai salah satu Game RPG Jepang terbaik.
Final Fantasy sebagai salah satu Game RPG Jepang terbaik.

RPG Jepang (Japanese RPG) atau yang lebih dikenal dengan sebutan J-RPG adalah sebuah cabang RPG yang diminati oleh banyak sekali gamers. Sejak diperkenalkan pertama kali tahun 80’an lewat Dragon Quest dan Final Fantasy, J-RPG mencuri hati para gamer di seluruh dunia. Saat ini banyak sekali J-RPG yang bermunculan di pasar game di seluruh dunia lengkap dengan ciri khasnya. Mulai dari The Legend of Zelda yang memamerkan aksi yang fantastis, hingga Fire Emblem yang mengandalkan Turn Based Strategy yang keren. RPG Jepang selalu berada di hati setiap gamers dan wajib dijadikan koleksi penikmat game RPG.

Ternyata, J-RPG menghadirkan pendekatan permainan yang berbeda dari RPG Barat. Selain hadirnya sitem leveling dan kebebasan pengelolaan karakter sebagai elemen utama, terdapat aspek-aspek kental yang dimiliki oleh J-RPG. Seperti karakter yang dimainkan, mekanisme gameplay, battle system, pembawaan cerita, dan lain sebagainya.

Berikut ini adalah beberapa ciri khas seputar J-RPG yang perlu untuk kamu tahu! Here we go!

Ciri Khas Japanese RPG

Pembawaan Cerita RPG Jepang

Cerita yang dipakai pada J-RPG kebanyakan jalan sudah diatur oleh developer dan tidak bisa diubah lagi. Pada dasarnya, alur cerita JRPG memiliki tema yang sama: Mengisahkan sekelompok orang yang terdiri dari jagoan dan teman-temannya yang memiliki misi menyelamatkan dunia dari kejahatan. Biasanya tokoh utama J-RPG memiliki latar belakang seorang yatim piatu yang ternyata mengetahui bahwa saudara
atau ayahnya adalah musuh yang ia lawan selama ini seiring berjalannya cerita atau dia yang dipilih untuk menyelamatkan dunia dari kejahatan.

https://wallpapercave.com/wp/wp3508523.jpg
Plot RPG Jepang Pada umumnya adalah pertempuran kebaikan melawan kejahatan.

J-RPG juga jarang sekali menampilkan keputusan yang akan mempengaruhi jalan cerita tersebut dan cenderung linear. Walau demikian, ada juga game J-RPG yang cenderung menghadirkan storyline yang memiliki jalan cerita bercabang seperti Chrono Trigger ataupun Romancing SaGa.

Tidak jarang J-RPG juga menyisipkan comic relief atau humor yang menambah nilai dari sebuah game atau bahkan ada game J-RPG yang memiliki unsur comic relief yang jauh lebih dominan dibanding gameplay-nya.

Sang Protagonis

Cloud Strife sebagai salah satu Main Chara di game Final Fantasy 7
Cloud Strife sebagai salah satu Main Chara di game Final Fantasy 7

Protagonis pada RPG Jepang cenderung ‘Siap Saji’. Artinya, kita akan memainkan sesosok karakter yang sudah disiapkan oleh developer beserta storyline yang akan ditempuh. Hal ini secara tidak langsung membuat J-RPG menghadirkan alur cerita yang linear. Kita ambil contoh Final Fantasy 7 dimana hero pada game ini adalah Cloud Strife, dimana dalam game-nya kita cukup mengelola perkembangan sang karakter sekaligus mengikuti alur cerita yang disajikan.

Grafis RPG Jepang

Tales of Abyss dengan grafis 2D ala Anime dan Manga
Tales of Abyss dengan grafis 2D ala Anime dan Manga

Grafis pada J-RPG mungkin dipengaruhi oleh budaya anime yang sangat populer di seluruh dunia. Mulai karakter-karakter 2D maupun 3D dengan rambut yang beragam warna, heroine yang bohay dan kawaii, hingga karakter cowok yang tampan. Latar tempat yang disajikan di J-RPG sarat dengan elemen fantasi yang di luar logika (istana di atas awan). Hal ini tidak berlaku untuk J-RPG seperti Dark Souls dimana temanya bertema fantasi abad pertengahan yang cenderung edgy dan realistis.

Para Heroine di game Cyberdimension Neptunia Four Goddesses Online
Para Heroine di game Cyberdimension Neptunia Four Goddesses Online

J-RPG juga lebih berani hadirin fanservice di dalam game-nya yang dapat menggaet gamer cowok kesepian. Siapa sih yang gak suka sama body heroine game yang molek ketika menggunakan pakaian ketat? Atau gadis loli yang saking imutnya bikin kita nyubit pipinya? Atau momen saat kita (gak sengaja) ngintip celana dalam yang dipakai heroine (maaf) saat kita mainin game-nya?

Fanservice pada Game RPG Jepang
Mbak, pantsu-nya kelihatan, mbak!

Untuk efek khusus yang ditawarkan J-RPG pada pertempuran ataupun cutscene, efek khusus yang disajikan J-RPG membuat mata kita kayak dimanjain ama visual efek yang bikin kita bilang ‘Wow’ saat kita memainkannya

Spesial efek yang memukai pada Game Tales of Berseria bikin kita betah mainin game-nya sampai berjam-jam.
Spesial efek yang memukai pada Game Tales of Berseria bikin kita betah mainin game-nya sampai berjam-jam.

Mekanisme Gameplay

Storyline RPG Jepang yang linear secara tidak langsung menghadirkan latar tempat yang lebih kecil seperti dungeon, kota ataupun tempat lainnya dengan aksesbilitas yang lebih terbatas. Aktifitas sampingan yang dihadirkan J-RPG cenderung terbatas dalam menghadirkan backstory dan lebih berfokus pada pemberian reward yang bermanfaat untuk pengembangan karakter. Hal inilah yang membuat game-game J-RPG perlu melakukan Grinding untuk memperkuat karakternya. Contohnya pada game Final Fantasy XII, dimana kita dapat berburu monster-monster langka untuk memperoleh EXP tambahan, Gil/Uang, atau bahkan senjata langka. Beberapa Hunt bahkan lebih sulit daripada final boss-nya.

Di Final Fantasy 10, ada juga lho hunt yang lebih susah daripada final boss-nya.
Di Final Fantasy 10, ada juga lho hunt yang lebih susah daripada final boss-nya.

Untuk system class-nya setiap karakter sudah diatur oleh developer dan pemian tidak diberi kebebasan kita untuk mengganti kelas awal kita. Tentu saja dengan role yang berbeda pula. Meski begitu terkadang kita bisa mengganti Class atau upgrade class di tengah-tengah permainan. Ambil contoh Final Fantasy 3 dimana kita bisa mengganti class keempat tokoh kita yang jumlahnya mencapai 32 class yang bisa kita pilih. Atau Game Trials of Mana alias Seiken Densetsu 3 dimana kita mengharuskan untuk upgrade class hero kita ke tingkat yang lebih tinggi agar bisa menyelesaikan dungeon yang lebih sulit.

Pergantian/Upgrade Class pada salah satu karakter di Game RPG Jepang Trials of Mana.
Pergantian/Upgrade Class pada salah satu karakter di Game RPG Jepang Trials of Mana.

Battle System RPG Jepang

Sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 1987, battle system yang ditawarkan pada J-RPG adalah turn-based atau Wait-and-see. Yaitu, sistem pertarungan bergilir dimana player dan musuh saling serang secara bergantian. Sistem pengambilan gilirannya dipengaruhi oleh kecepatan (Agility) dimana yang mempunyai agility terbanyak dialah yang mendapat giliran. Contohnya Dragon Quest.

Sistem Pertempuran Dragon Quest 11 yang mengharuskan pemain dan musuh saling gebuk secara bergantian.
Sistem Pertempuran Dragon Quest 11 yang mengharuskan pemain dan musuh saling gebuk secara bergantian.

Seiring perkembangannya, Turn Based System selalu melalui inovasi mulai sehingga battle system J-RPG lebih dari sekedar menunggu giliran untuk bergerak dan menyerang. Mulai dari Active Time Bar dimana karakter yang ATB-nya penuh duluan akan menyerang lebih dulu. Fitur combo yang dapat hasilin serangan yang keren dan mematikan. Malahan kita bisa bertempur dengan musuh langsung di peta, tentu saja dalam pertarungan yang Turn Based kayak Chrono Trigger.

Battle system Chrono Trigger.
Battle system Chrono Trigger.

Bahkan, ada juga J-RPG kayak The Legend of Zelda dan Tales of yang pake Action Battle System sebagai sistem pertempuran dimana ini ngandalin unsur refleks, kecepatan, serta keluwesan kita untuk ngalahin musuh kita.

Tales of Vesperia yang mengandalkan sistem pertempuran penuh aksi yang melatih ketangkasan gamer.
Tales of Vesperia yang mengandalkan sistem pertempuran penuh aksi yang melatih ketangkasan gamer.

Epilogue

Sekian ciri khas J-RPG yang membuatnya berbeda dengan RPG Barat yang cenderung realistis. Semoga apa yang saya share di blog ini bermanfaat bagi kita semua. Komentar dari kalian akan memotivasi saya untuk menulis lebih banyak. Oke wes sugeng dalu.

Sumber

5 Hal yang Membedakan Genre Game RPG dengan JRPG – Gamebrott.com
Western RPG vs Japan RPG – Duniaku.com

Penjelasan dan Jenis-jenis Game Engine

Penjelasan dan Jenis-jenis Game Engine – Game Engine adalah sebuah software yang dipakai untuk membuat game. Fungsinya adalah rendering gambar 2D atau 3D, physics engine, pengaturan audio, pemrograman, pembuatan animasi game, kecerdasan buatan alias A.I, networking, streaming, pengaturan memori, dukungan lokalisasi, hingga pengaturan gambar. Sebuah game engine bisa bikin berbagai macam genre game dan melakukan porting pada konsol lain lho, guys…

Jenis-Jenis Game Engine

Menurut Ward dalam GameCareerGuide.com (2008), game engine dibagi dalam tiga jenis, yaitu:

Roll-your-Own Game Engine

Roll-your-Own Game Engine adalah jenis dimana game developer merancang sendiri game engine-nya dengan menggunakan Application Programming Interface seperti XNA, Directx dan OpenGL . Ia biasanya dipakai oleh banyak studio game indie untuk bikin game. Keunggulannya adalah fleksibel dimana ia memungkinkan pengembang untuk mengimplementasikan komponen mereka sendiri dengan bebas. Sayangnya, Game engine ini memiliki kelemahan yaitu waktu pengembangan yang lama dan game engine yang dibuat dapat menyerang balik perancangnya. Contoh game engine yang masuk kategori Roll-your-Own adalah RE Engine buatan Capcom yang dipakai dalam game Resident Evil 7 Biohazard.

RE Engine buatan Capcom yang merupakan Roll-your-Own Game Engine

Resident Evil 7 Biohazard dibuat menggunakan RE Engine.

Mostly Ready

Mostly Ready Game Engine adalah engine yang siap dipakai secara langsung pada pengembangan yang meliputi rendering, input, Antarmuka GUI, physics, dan lain sebagainya. Kebanyakan bahkan memiliki engine sendiri sehingga bisa langsung merancang game dengan beberapa pemrograman. Namun, ia punya kelemahan yaitu penggunaan relatif terbatas dibandingkan membuat game engine sendiri. Contoh game engine yang  masuk kedalam kategori ini adalah Unreal Engine.

Unreal Engine merupakan game engine yang bisa langsung dipakai.

Point-and-Click

Point-and-Click game engine merupakan game engine yang hanya membutuhkan klik mouse dengan sedikit atau bahkan tanpa pemrograman yang rumit sama sekali. Kelebihannya adalah memiliki tampilan yang user friendly sehingga membantu game developer awam untuk membuat game-nya sendiri dengan mudah dan cepat. Kekurangannya adalah pemakaiannya yang sangat terbatas pada genre tertentu saja. Namun, bukan berarti game engine ini tidak berguna. Di tangan game developer yang cerdas dan kreatif, sebuah game yang bagus bisa dibuat memakai genre yang lain dengan batasan yang ada. Contoh game engine yang masuk ke dalam kategori ini adalah Torque Game engine, Unity 3D, dan RPG Maker.

Unity merupakan game engine yang masuk kategori Point-and-Click Game Engine

Contoh lain dari Game Engine berjenis Point-and-Click adalah RPG Maker

Ending

Sekarang kita sudah belajar  mengenai jenis-jenis game engine. Semoga ilmu yang gw share ini bermanfaat bagi kita semua.